Dalam
kehidupan sehari-hari sering kita temukan orang2 mengucapkan lafadz masyaalloh
ketika mereka melihat sesuatu yang buruk atau kecewa misalnya ketika melihat
kedzoliman, kejahatan atau orang tua yang kecewa pada tingkah buruk anaknya.
Lalu tak sedikit pula orang yang mengucapkan lafadz subhanalloh ketika melihat
sesuatu yang menakjubkan dan keindahan. Sebenarnya itu semua kurang tepat.
Justru itu terbalik karena masyaalloh artinya yang Allah kehendaki dan
subhanalloh artinya maha suci Allah. Masyaalloh digunakan ketika kita melihat
sesuatu yang menakjubkan sedangkan subhanalloh digunakan ketika kita melihat
sebuah kedzoliman/ perbuatan dosa
Tuesday, February 16, 2016
Wednesday, February 10, 2016
ORANG LIBERAL VS KYAI
Liber: Ki, ada orang baek banget, anti korupsi, bangun mesjid, rajin sedekah sampe hidupnya sendiri dikorbanin buat nolongin orang banyak, trus meninggal dan dia bukan Muslim, masuk mana?
Kyai: Neraka.
Liber: Lah? Kan dia orang baek. Kenapa masuk neraka?
Kyai: Karena dia bukan Muslim.
Liber: Tapi dia orang baek Ki. Banyak orang yang kebantu karena dia, bahkan umat Islam juga. Malah Bangun Masjid Raya segala. Jahat bener dah Tuhan kalau orang sebaek itu dimasukin neraka juga.
Kyai: Allah tidak jahat, hanya adil.
Liber: Adil dari mane?
Kyai: Kamu sekolahnya apa?
Liber: Ane mah Master Sains lulusan US Ki, kenape?
Kyai: Kenapa bisa kamu dapat titel Master Sains dari US?
Liber: Yaa karena kemaren ane kuliah disana, diwisuda disana.
Kyai: Namamu terdaftar disana? Kamu mendaftar?
Liber: Ya jelas dong Ki, ini ijazah juga masih basah.
Kyai: Sekiranya waktu itu kamu tidak mendaftar, tapi kamu tetap datang kesana, hadir di perkuliahan, diam-diam ikut ujian, bahkan kamu dapat nilai sempurna, apakah kamu tetap akan dapat ijazah?
Liber: Jelas enggak Ki, itu namanya mahasiswa ilegal, sekalipun dia pintar, dia nggak terdaftar sebagai mahasiswa, kampus ane mah ketat soal aturan gituan.
Kyai: Berarti kampusmu jahat dong, ada orang sepintar itu tak dikasih ijazah hanya karena tidak mendaftar?
Liber: *terdiam*
Kyai: Gimana?
Liber: Ya nggak jahat sih Ki, itu kan aturan, salah si mahasiswa kenapa nggak mendaftar, konsekuensinya ya nggak dapat ijazah dan titel resmi dari kampus.
Kyai: Nah, kalau kampusmu saja ada aturan, apalagi dunia dan akhirat. Kalau surga diibaratkan ijazah, dunia adalah bangku kuliah, maka syahadat adalah pendaftaran awalnya. Tanpa pendaftaran awal, mustahil kita diakui dan dapat ijazah, sekalipun kita ikut kuliah dan mampu melaluinya dengan gemilang. Itu adalah aturan, menerapkannya bukanlah kejahatan tapi keadilan .
Kyai: Karena dia bukan Muslim.
Liber: Tapi dia orang baek Ki. Banyak orang yang kebantu karena dia, bahkan umat Islam juga. Malah Bangun Masjid Raya segala. Jahat bener dah Tuhan kalau orang sebaek itu dimasukin neraka juga.
Kyai: Allah tidak jahat, hanya adil.
Liber: Adil dari mane?
Kyai: Kamu sekolahnya apa?
Liber: Ane mah Master Sains lulusan US Ki, kenape?
Kyai: Kenapa bisa kamu dapat titel Master Sains dari US?
Liber: Yaa karena kemaren ane kuliah disana, diwisuda disana.
Kyai: Namamu terdaftar disana? Kamu mendaftar?
Liber: Ya jelas dong Ki, ini ijazah juga masih basah.
Kyai: Sekiranya waktu itu kamu tidak mendaftar, tapi kamu tetap datang kesana, hadir di perkuliahan, diam-diam ikut ujian, bahkan kamu dapat nilai sempurna, apakah kamu tetap akan dapat ijazah?
Liber: Jelas enggak Ki, itu namanya mahasiswa ilegal, sekalipun dia pintar, dia nggak terdaftar sebagai mahasiswa, kampus ane mah ketat soal aturan gituan.
Kyai: Berarti kampusmu jahat dong, ada orang sepintar itu tak dikasih ijazah hanya karena tidak mendaftar?
Liber: *terdiam*
Kyai: Gimana?
Liber: Ya nggak jahat sih Ki, itu kan aturan, salah si mahasiswa kenapa nggak mendaftar, konsekuensinya ya nggak dapat ijazah dan titel resmi dari kampus.
Kyai: Nah, kalau kampusmu saja ada aturan, apalagi dunia dan akhirat. Kalau surga diibaratkan ijazah, dunia adalah bangku kuliah, maka syahadat adalah pendaftaran awalnya. Tanpa pendaftaran awal, mustahil kita diakui dan dapat ijazah, sekalipun kita ikut kuliah dan mampu melaluinya dengan gemilang. Itu adalah aturan, menerapkannya bukanlah kejahatan tapi keadilan .
Sumber: Otaku Muslim
Sunday, February 7, 2016
Cinta yang Berlebihan
“Janganlah
mencintai sesuatu secara berlebihan karena bisa jadi suatu hari nanti sesuatu
itu akan menjadi hal yang paling kamu benci dan janganlah membenci sesuatu
secara berlebihan karena bisa jadi suatu hari nanti sesuatu itu akan menjadi
hal yang paling kamu cintai (HR. Muslim)”
Setiap manusia
pasti pernah merasakan yang namanya cinta dan juga yang namanya benci. Saat
manusia sedang jatuh cinta, maka ia selalu memikirkannya, membayangkannya,
ingin selalu bersamanya dan tentu dia begitu indah
dipandang mata. Tidak jauh beda dengan cinta, benci akan membuat orang merasa
kesal, tak ingin melihat bahkan akan mudah naik pitam jika nama orang yang kita
benci di sebut-sebut dihadapan kita. Saya pernah mendapatkan sebuah pesan di WA
“Jangan berlebihan, Alloh tidak mungkin membuat sesuatu itu dengan berlebihan.
Sesuatu yang berlebihan itu datangnya dari emosi manusia itu sendiri”. Kali ini
saya ingin mengupas tentang dampak dari membenci. Ya, seringkali kita tidak
mampu memaafkan sesama muslim yang telah menyakiti hati kita atau mengganggu
ketenangan hidup kita. Padahal Alloh menjanjikan pahala yang besar,
Tanggal Hari Cinta antara kita
Masyaalloh, Allah pertemukan aku dengan pria yang menggetarkan hatiku. Aku
mulai mencinta saat bertemu, saling pandang, dan berbicara saat bertemu di
masjid kampus malam itu. Pada suasana malam Ramadhan yang indah, Allah
pertemukan kami selepas sholat tarawih. Dia memiliki bentuk tubuh dan warna
kulit yang tak jauh beda denganku. Di mataku, dia begitu tampan dan menawan.
Aku dan dia lahir di hari yang sama dan bulan yang sama yaitu pada hari Minggu
kliwon dan bulan Maret. Kakakku dan istrinya juga
lahir di hari dan bulan yang sama yaitu hari Minggu kliwon dan bulan Agustus. Allah
mempersatukan mereka dengan ikatan pernikahan yang syah. Namun aku jauh dari
harapan itu. Jangankan berharap, bermimpi pun aku tak berani untuk hidup
bersama dan bersatu dengan dia. Biarlah semua berjalan sesuai dengan ketentuan
dan kehendak Allah. Jika memang berjodoh, sejauh apapun dia pergi, selama
apapun kami berpisah Allah pasti akan mempertemukan dan mempersatukan kami
dengan cara yang indah pada saat yang tepat nanti. Aku percaya bahwa
Thursday, February 4, 2016
Jejak Kaki Seorang Penggapai Mimpi
Langkahkan
kakimu ke depan menujuh impian yang nyata, dan bangkitlah dari tidurmu. Hari
ini bukan waktunya untuk terus bermimpi. Bangunlah dan jadikan mimpimu menjadi
nyata, kobarkan semangat juangmu untuk menggapai mimpimu. Berlarilah dan terus
maju menujuh masa depan yang indah dan tinggalkan jejak kakimu untuk generasi selanjutnya.






